Makalah Psikologi: Inteligensi

Posted on

BAB I

PEMBAHASAN

A. Pengertian Inteligensi
Spearman dan Jones mengemukakan adanya konsep lama mengenai suatu kekuatan (power) yang dapat melengkapi akal pikiran manusia tunggal atau pengetahuan sejati. Kekuatan tersebut dalam bahasa Yunani disebut dengan “Nous” sedangkan penggunaan kekuatannya disebut “Noeseis”. Kedua istilah tersebut dalam bahasa latin disebut intellectus dan intelligentia. Dalam bahasa inggris disebut intellect dan intelligence. Sementara dalam bahasa Indonesia kita  menyebutnya inteligensi atau kecerdasan.

Menurut Wechler inteligensi adalah totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional serta menghadapi lingkungan dengan efektif.

Sementara itu masyarakat umum mengenal inteligensi sebagai istilah yang menggambarkan kecerdasan, kepintaran, kemampuan berpikir seseorang atau kemampuan untuk memecahkan problem yang dihadapi.

B. Intelektual Question (IQ)

Intelektual question atau kecerdasan intelektual adalah sebuah kecerdasan yang memberikan kita kemampuan untuk berhitung, beranalogi, berimajinasi, dan memiliki daya kreasi serta inovasi. Atau lebih tepatnya diungkapkan oleh para pakar psikologis dengan “What I Think“. Kecerdasan inilah yang paling banyak di dengar oleh kita. Kecerdasan ini dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang biasa disebut sebagai tes IQ. Kecerdasan inilah yang jadi ukuran sebagian besar orang untuk meraih kesuksesan, banyak orang berpikir dengan IQ tinggi seseorang bisa meraih masa depan yang cerah dalam hidupnya. Bahkan sistem pendidikan di negara kita inipun masih memandang bahwa IQ adalah modal dasar siswa atau mahasiswa untuk meraih keberhasilan. Akan tetapi test tersebut juga tidak dapat secara mutlak dinyatakan sebagai salah satu identitas dirinya karena tingkat intelektual seseorang selalu dapat berubah berdasarkan usia mental dan usia kronologisnya.

IQ adalah ukuran kemampuan intelektual, analisis, logika dan rasio seseorang. Dengan demikian, hal ini berkaitan dengan keterampilan berbicara, kesadaran akan ruang, kesadaran akan sesuatu yang tampak, dan penguasaan matematika. IQ mengukur kecepatan kita untuk mempelajari hal-hal baru, memusatkan perhatian pada aneka tugas dan latihan, menyimpan dan mengingat kembali informasi objektif, terlibat dalam proses berpikir, bekerja dengan angka, berpikir abstrak dan analitis, serta memecahkan permasalahan dan menerapkan pengetahuan yang telah ada sebelumnya. Bila IQ kita tinggi, kita memiliki modal yang sangat baik untuk lulus dari semua jenis ujian dengan gemilang, dan meraih nilai yang tinggi dalam uji IQ.

C. Emotional Question (EQ)
Kecerdasan emosional atau yang biasa dikenal dengan EQ (bahasa Inggris: emotional quotient) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain yang ada di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan. Sedangkan, kecerdasan (inteligen) mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan. Kecerdasan emosional (EQ) belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual (IQ). Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang.

Istilah kecerdasan emosional (EQ) pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire mereka menerangkan kalau kualitas emosional juga sangat penting dalam mendukung keberhasilan seseorang.
Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.
Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya, bisa mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat. Karena Emotional Question atau EQ kecerdasan yang mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan seseorang.

Kalau kita simpulkan EQ adalah serangkaian kecakapan yang memungkinkan kita melapangkan jalan didunia yang rumit, aspek pribadi, sosial, dan pertahanan dari seluruh kecerdasan, akal sehat yang penuh misteri, dan kepekaan yang penting untuk berfungsi secara efektif setiap hari. Dalam bahasa sehari-hari, EQ disebut sebagai akal sehat.
Ada 5 faktor utama dalam meningkatkan kemampuan kecerdasan emosional yaitu:

1. Mengenali Emosi Diri

Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional, para ahli psikologi menyebutkan kesadaran diri sebagai metamood, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Menurut Mayer kesadaran diri adalah waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi.  Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi, namun merupakan salah satu prasyarat penting untuk mengendalikan emosi sehingga individu mudah menguasai emosi.

2. Mengelola Emosi

Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi. Emosi berlebihan, yang meningkat dengan intensitas terlampau lama akan mengoyak kestabilan kita. Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan.

3. Memotivasi Diri Sendiri

Prestasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang positif, yaitu antusias, gairah, optimis dan keyakinan diri.

4. Mengenali Emosi Orang Lain

Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati. Menurut Goleman kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli, menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.  Mereka biasanya mampu menyesuiakan diri secara emosional, lebih populer, dan lebih mudah bergaul serta mempunyai kemampuan untuk membaca perasaan orang lain.

5. Membina Hubungan

Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi.  Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan membina hubungan. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan membina hubungan ini akan sukses dalam bidang apapun. Orang berhasil dalam pergaulan karena mampu berkomunikasi dengan lancar pada orang lain. Orang-orang ini populer dalam lingkungannya dan menjadi teman yang menyenangkan karena kemampuannya berkomunikasi. Ramah tamah, baik hati, hormat dan disukai orang lain dapat dijadikan petunjuk positif bagaimana siswa mampu membina hubungan dengan orang lain.

 D. Spiritual Question (SQ)

Spiritual Question pertama kali digagas oleh Danar Zohar dan Ian Marshall, masing-masing dari Harvard University dan Oxford University. Menurut keduanya kecerdasan spiritual adalah sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya. Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Orang yang ber SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif. Manusia yang memiliki SQ tinggi cenderung akan lebih bertahan hidup dari pada orang yang ber SQ rendah.
Banyak kejadian-kejadian bunuh diri karena masalah yang sepele, mereka yang demikian itu tidak bisa memberi makna yang positif dari setiap kejadian yang mereka alami dengan kata lain SQ atau kecerdasan spiritual mereka sangat rendah.

Kecerdasan spiritual sangat berperan dalam diri manusia sebagai pembimbing kecerdasan lain. Kini tidak cukup orang dapat sukses berkarya hanya dengan kecerdasan rasional (yang bekerja dengan rumus dan logika kerja), melainkan orang perlu kecerdasan emosional agar merasa gembira, dapat bekerjasama dengan orang lain, punya motivasi kerja, bertanggung jawab dan life skill lainnya. Perlunya mengembangkan kecerdasan spiritual agar ia merasa bermakna, berbakti dan mengabdi secara tulus, luhur dan tanpa pamrih.

1. Pentingnya SQ dalam Menjaga Emosi

Dalam al-Qur’an surat An-Nas 1-6 menjelaskan bahwa manusia harus selalu berlindung kepada Allah agar tidak mudah terhasut oleh rayuan syetan yang akan membawa kepada kesesatan dan melakukan kejahatan. Ketika suatu permasalahan muncul, maka otomatis radar emosi akan merespon, respon ini bisa berbentuk respon positif atau negatif. Disinilah SQ sangat diperlukan sebagai pengendalian diri agar dapat menjaga posisi emosi pada daerah nol atau netral sehingga menghasilkan perilaku yang tenang. Sebenarnya disaat hati tidak sanggup memberikan energi yang sesuai dengan energi yang datang dari luar, maka disaat itu syetan melancarkan srateginya untuk mengelincirkan manusia. Ada beberapa tips agar rangsangan dari luar dapat diatasi oleh hati dengan seimbang sehingga menghasilkan emosi yang netral, diantaranya:
a) Saat marah, maka ucapkanlah istighfar.
b) Kehilangan dan sedih, maka ucapkanlah innalillahi wainna ilaihi roji’un.
c) Bahagia, maka ucapkanlah hamdalah
d) Disaat takut maka ucapkanlah Allahu Akbar
e) Kagum, maka ucapkanlah subhanallah
f) Panik, maka ucapkanlah Laa hawlaa walaa quwwaata illa billah
Ucapan ucapan diatas diyakini ampuh dalam mengatasi setiap tekanan dan energi sehingga dapat membawa emosi dalam keadaaan normal.

2.Pentingnya SQ Dalam Era Digital

Dalam Al-Qur’an surat Nuh ayat 15-18 dijelaskan bahwa manusia harus memperhatikan bumi ini, karena setiap waktu perubahan terus berlalu dan bumi ini akan mengarah kepada era digital. Semenjak ditemukannya bilangan binner 0 dan 1, maka semenjak itu perkembangan teknologi dan informasi berkembang pesat.

Dampak perkembangan teknologi dan informasi ini mengandung sisi positif dan negatif, sisi positifnya tentu akan memudahkan kerja manusia, bayangkan dahulu disaat belum ada alat telekomunikasi, hubungan jarak jauh hanya bisa lewat surat sehingga memerlukan waktu lama dan biaya yang mahal. Namun sekarang, melalui Hp yang bisa dibawa kemana-mana, kerabat yang jauh disana dapat dipanggil dengan mudah dan waktu yang singkat. Sisi negatifnya juga tidak kala besar, banyak manusia yang mulai meninggalkan nilai-nilai spiritual sehingga didalam dirinya hanya dunia dan materi.

Manusia berfikir seolah-olah dengan semua keperluannya dapat terpenuhi dengan teknologi yang ada. Padahal manusia memiliki dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Unsur jasmani mungkin dapat dipenuhi dengan teknologi tadi, namun tidak demikian dengan rohani. Rohani memerlukan nilai-nilai spiritual yang tidak bisa dipenuhi oleh teknologi melainkan oleh pelajaran-pelajaran agama.

Diera modern banyak orang yang berhasil mencapai kesuksesan, namun mereka kehilangan makna spiritual dalam dirinya. Spiritual Illness atau spiritual patology ini sering menjangkiti manusia modern. Contohnya Presdir Hyundai yang memilih bunuh diri dengan meloncat dari gedung pencakar langit. David Kellerman direktur keuangan Fredie Mac, juga bunuh diri setelah perusahaan pembiayaan perumahan terbesar di AS itu mengalami kebangkrutan.

E. Hubungan IQ, EQ dan SQ Dengan Dunia Pendidikan

Pada awalnya, orang beranggapan bahwa pendidikan hanya memerlukan kualitas IQ tanpa ada peran bearti dari EQ dan SQ. Namun melihat perkembangannya, pendidikan yang mengutamakan IQ semata, akan menghasilkan ilmuwan-ilmuwan yang tidak memiliki hati dan mengukur segala sesuatu dengan materi. Selain itu, ilmuwan tersebut tidak mengenal nilai-nilai kebenaran sehingga menggunakan ilmu yang dimilikinya untuk kejahatan dan menguntungkan dirinya sendiri. Namun semenjak ditemukan penyebabnya, maka para pakar pendidikan percaya bahwa ada bagian yang lebih penting untuk mengontrol IQ agar digunakan pada tempat yang semestinya. Bagian itu adalah EQ dan SQ. Seperti yang telah dijelaskan diatas, EQ dan SQ berusaha menjaga agar IQ dapat bekerja pada jalur kebaikan.

Bagi para calon pendidik ataupun pendidik, dalam melakukan pembelajaran disekolah harus memperhatikan aspek EQ dan SQ nya. Jangan hanya memperhatikan IQ semata.Diharapkan dengan mengajarkan cara mengaktifkan EQ dan mengajarkan nilai-nilai SQ, maka akan menghasilkan para ilmuwan yang mengerti nilai kebaikan dan menggunakan ilmu yang mereka miliki untuk kebaikan bersama. Tidak hanya pendidik, keluarga terutama orang tua juga harus mengajar anak pada ketiga dimensi diatas, jangan memaksakan anak mendapatkan nilai bagus namun menghalalkan segala cara. Bagi lingkungan pun juga harus demikian, lingkungan jangan mengagumi orang-orang yang memiliki ilmu tinggi namun dangkal iman dan taqwa.

Untuk itu sangat diperlukan kurikulum dan sistem pendidikan yang mengembangkan ke tiga dimensi diatas. Sehingga, diharapkan pendidikan yang dilaksanakan dengan baik akan menghasilkan ilmuwan yang beriman dan bertaqwa.

Daftar Pustaka

Hamzah, Uno. 2006. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Maliki, S. 2009. Manajemen Pribadi Untuk Kesuksesan Hidup. Yogyakarta: Kertajaya
Shapiro. 1998. Kecerdasan Otak Manusia. Jakarta: Kanaya Press
Goleman, Daniel. 2004. Kecerdasan Emosional. Jakarta: Gramedia
Zohar, Danah dan Marshall, Ian. 2002. SQ Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berfikir Integralistik dan Holistik Untuk Memaknai Kehidupan. Bandung: Mizan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *